Selasa, 27 Desember 2011

MODEL PEMBELAJARAN

REACTIVE TEACHING
Oleh : Salam

A. KURIKULUM
1. Pengantar
Visi reformasi pembangunan yang tertera dalam GBHN adalah terwujudnya  masyarakat  Indonesia yang damai, demokratis, ber­-ke­adilan, berdaya saing, maju dan sejahtera dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk mewujudkan visi tersebut, ma­ka harus didukung oleh  manusia Indonesia yang sehat, mandiri, ber­iman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta disiplin.
Pencapaian visi tersebut (masyarakat berkualitas) menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subjek yang dapat berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profe­si­onal dalam bidangnya. Dengan demikian, untuk meningkatkan  mutu pendidikan di­per­lukan perubahan pola pikir dan pola prilaku yang digunakan sebagai landasan pe­laksanaan kurikulum.
Dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era globalisasi yang penuh tantangan dan ketidakpastian, diperlukan pendidikan yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Untuk itulah pemerintah memprogramkan kurikulum berbasis kompetensi (Competency based curriculum) yang disingkat de­ngan KBK.
Kurikulum merupakan konsep pengembangan kompetensi dalam melakukan tugas-tugas dengan standar tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan anak didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.  Kompetensi tersebut adalah per­paduan dari pengetahuan (knowledge), epemahaman (understanding), keterampil­an (skill), nilai (value), sikap (attitude), minat (interest) (Longstreet, 1993:109). 
2. Landasan Teoretis dan karakteristik Kurikulum
Paling tidak terdapat tiga landasan teori yang mendasari Kurukulum. Pertama, ada­nya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke pembelajaran individual. Kedua, Pe­ngem­bangan konsep belajar tuntas (mastery learning) atau belajar untuk penguasaan (learning of mastery) dengan falsafah bahwa semua siswa dapat belajar dan mengasai dengan baik materi pelajaran jika system pembelajarannya diekelola dengan tepat. Ketiga, pendefinisian  kembali terhadap bakat. Dalam hal ini, Hall (1996) menyata­kan bahwa setiap siswa dapat menguasai apa yang diajarkan, jika terlebih dahulu di­kon­disikan lingkungan belajar yang baik. 
Pada masa lalu proses belajar mengajar terfokus pada guru. Akibatnya kegiat­an belajar mengajar le­bih menekankan pada pengajaran daripada  pembelajaran. Dewasa ini, ada kecende­rungan untuk kembali pada pemikiran bahwa  anak akan be­lajar lebih baik jika lingkungannya diciptakan alamiah. Belajar akan lebih ber­makna jika anak “mengalami” apa yang dipelajari, dan  bukan “menerima dan diberi­kan” be­gitu saja oleh guru (Elaine, 2002).
Kurikulum memfokuskan pada kompetensi-kompetensi tertentu pada diri siswa. Oleh karena itu, KBK menuntut guru yang berkualitas dan profesional untuk mela­ku­kan kerjasama dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Depdiknas (2002) memaparkan bahwa karakteristik Kurikulum adalah sebagai berikut.
1.        Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa.
2.        Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
3.        Menggunakan pendekatan dan metode yyang bervariasi.
4.        Sumber belajar bukan hanya guru.
5.        Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar.
3. Pengembangan Struktur Kurikulum
            Sedikitnya ada tiga langkah yang ditempuh dalam pengembangan struktur KBK, yakni (1) mengidentifikasi kompetensi, (2) mengembangkan struktur kuri­ku­lum, dan (3) mendeskripsikan mata pelajaran.
3.1 Identifikasi Kompetensi
            (Hall, 1996) dan (Prihantoro,1999) menyatakan ada beberapa sumber yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi kompetensi, antara lain: (1) daftar yang ada, (2) penjabaran bidang studi, (3) analisis taksonomi, (4) masukan dari lingkungan, (5) membangun teori, dan (6) analisis tugas.
3.2 Struktur Kurikulum
            Sampai saat ini struktur KBK masih digodok dan menunggu masukan dari berbagai pihak (depdiknas 2002). Sebagai contoh, dipaparkan struktur kurikulum TK/  Raudhatul Athfal dan Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah seperti berikut ini.
Struktuk Kurikulum TK dan Raudhatul Athfal
No.
Program Kegiatan Belajar
Alokasi Waktu
1.
Pengemb. Moral dan nilai-nilai Agama
·          
2.
Pengemb. Sosial dan Emosional
·          
3.
Pengemb. Kemampuan Dasar
·          
          Alokasi waktu perminggu                                                 15jam (900 menit)






Struktur Kurikulum SLTP dan MTs
No.
Mata Pelajaran
Alokasi Waktu
Kelas VII
Kelas VIII
Kelas IX
1.
Pendidikan Agama
2
2
2
2.
Kewarganegaraan
2
2
2
3.
Bhs & Sastra Indonesia
5
5
5
4.
Matematika
5
5
5
5.
Sains
5
5
5
6.
IPS
5
5
5
7.
Bahasa Inggris
4
4
4
8.
Pendidikan Jasmani
2
2
2
9.
Kesenian
2
2
2
10.
Keterampilan

2

2

2
11.
Teknologi Informasi dan Komunikasi

Jumlah
34
34
34

3.3 Deskripsi Mata Pelajaran
            Setiap mata pelajaran di atas, masing-masing dideskripsikan tujuan dan arah pengembangannya serta manfaat bagi  siswa . Misalnya Pendidikan Agama dides­krip­sikan sebagai “Mengembangkan kkemampuan siswa untuk memperteguh keiman­an dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang maha Esa serta berakhlak mulia dan berbudippekerti luhur dan menghormati penganut agama lain.”
4. Implementasi Kurikulum
            Secara garis besar implementasi Kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yakni (1) pengembangan program, (2) pelaksanaan pembelajaran, dan (3) evaluasi.
4.1 Pengembangan Program
            Pengembangan program KBK mencakup pengembangan program tahunan, program semester, program modul (pokok bahasan), program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial, serta program bimbingan dan konseling.
            Sumber-sumber yang dapat dijadikan bahan pengembangan program tahunan (progta), yakni daftar kompetensi standar, ruang lingkup dan sekuensi setiap kompe­tensi, dan kalender pendidikan.
            Program semester (progsem) berisi garis-garis besar tentang hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut; bulan, pokok bahasan yang akan disampaikan, waktu yang direncanakan, dan keterangan-keterangan. Progsem meru­pa­kan penjabaran dari  progta.
            Program modul (pokok bahasan) merupakan penjabaran dari progsem yang dikembangkan dari setiap kompetensi dan pokok bahasan yang akan disampaikan. Program modul ini umumnya berisi lembar kegiatan peserta didik, lembar kerja, kunci lembar kerja, lembar soal, lembar jawaban, dan kunci jawaban. Dengan demi­kian, diharapkan siswa dapat belajar sendiri, tanpa harus didamppingi oleh guru.
            Program mingguan dan harian adalah penjabaran dan progsem dan program modul. Program ini dimaksudkan untuk membantu kemajuan belajar siswa. Melalui program ini dapat diketahui dan diidentifikasi kemajuan belajar dan kesulitan yang dialami setiap siswa. Bagi siswa yang cepat dan diberikan pengayaan, dan bagi mereka yang lambat diberikan remedial.
4.2 Pelaksanaan Pembelajaran
            Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara  siswa dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan prilaku pada diri siswa ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhinya, baik internal maupun eksternal.
            Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar mendukung terjadinya perubahan pada prilaku siswa. Umumnya pelaksanaan pembelajaran terdiri atas, pretest, proses, dan posttest.
4.3 Evaluasi Hasil Belajar
            Evaluasi hasil belajar dalam implementasi Kurikulum dilakukan  dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar,  penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, bench marking, dan penilaian program.
            Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir.
            Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran. Tes ini dilakukan pada setiap tahun.
            Penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi dilakukan pada setiap akhir semester dan akhir tahun untuk mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam satuan waktu tertentu. Untuk keperluan sertifikasi, kinerja, dan hasil belajar yang dicantumkan di dalam Surat tanda Tamat Belajar tidak semata-mata didasarkan pada hasil penilaian akhir jenjang sekolah.
            Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan. Ukuran keunggulan dapat ditentukan oleh sekolah, daerah, atau nasional. Penilaian dilakukan secara berkesinambungan sehingga siswa dapat mencapai suatu tahapan keunggulan pembelajaran sesuai usaha dan keuletannya. Hasil benchmarking dapat digunakan untuk memberikan peringkat kelas, namun bukan untuk memberikan nilai akhir peserta didik.






B. Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Knowledge is constructed by humans. Knowledge is not a set of facts, concepts, or laws waiting to be discovered. Its is not something  that exists independent of a knower. Humans create or construct knowledge as they attempt to bring meaning to their experience. Everything that we know, we have made (Zahorik, 1995).

1. Pengantar 
Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagi perangkat fakta-fakta yang harus diambil dan dihafal. Kegiatan kelas masih berfokus pada kegiatan guru sebagai sumber utama pengetahuan, lalu ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi ‘baru’ yang lebih memberdayakan siswa.
Belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Anak belajar dari mengalami, mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru. Untuk keperluan itu, siswa perlu dibiasakan mengidentifikasi, dan memecahkan masalah, serta menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya.
Pembelajaran kontekstual (CTL) adalah sebuah alternatif pendekatan yang merupakan konsep belajar dalam membantu guru me­ngaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Proses pem­belajaran berlangsung alamiah, di mana siswa bekerja sekaligus mengalami, bu­kan transfer pengetahuan (knowledge) melainkan transfer belajar (learning), strategi pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar. Tugas guru lebih banyak berurusan dengan penyediaan materi dan trategi daripada memberi informasi.  Dengan pembelajaran ini diharapkan akan dapat memo­tivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan kehi­dupan luarnya sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan pada akhirnya sebagai te­naga kerja. (US Departement of Education and The National school-to-Office, 2001). Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa yang akan dipelajari, apa manfaatnya, dan bagaimana mencapainya (neighbouring work).
2. Elemen Dasar Pembelajaran Kontekstual
            Kontekstual hanyalah sebuah strategi pembelajaran. Sama halnya dengan strategi pembelajaran yang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah tatanan dan kurikulum yang ada.
            Menurut Zahorik (1995:22) ada lima elemen harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yakni:
1.        Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).
2.        Pemerolehan pengetahuan baru (aquiring knowledge).
3.        Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yakni dengan cara menyusun (a) konsep sementara, (b) melakukan sharing pada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi), dan (c) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
4.        Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut ( reflecting knowledge)
5.        Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
3. Karakteristik CTL
            Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yakni konstruktvisme (constructivism), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), bertanya (questioning), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).
3.1 Konstruktivisme (constructivism)
            Merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yakni pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep,  atau kaidah yang sudah siap untuk diambil dan diingat. Pengetahuan dibangun/dikonstruksi manusia sedikit demi sedikit dan memberi  makna melalui pengalaman nyata,  di mana hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
3.2 Menemukan (inquiry)
            Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajarn berbasis CTL. Guru dituntut untuk selalu dapat merancang kegiatan pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan.
            Siklus inquiry adalah: observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data, dan penyimpulan.
3.3 Bertanya (questioning)
            Pengetahuan yang dimiliki seseorang umumnya bermula dari kegiatan ‘bertanya’. Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya bermanfaat untuk:
1.      Menggali informasi, baik akademik maupun administrative.
2.      Mengecek pemahaman siswa.
3.      Membangkitkan respon siswa.
4.      Mengecek sejauhmana rasa keingintahuan siswa.
5.      Memahami hal-hal yang sudah diketahui siswa.
6.      Memfokuskan dan menyegarkan kembali ingatan siswa.
3.4 Masyarakat Belajar (learning community)
            Konsep ini  menyarankan agar hasil pembelajaran diperolehdari hasil kerjasama dengan orang lain. Hasil sharing antarteman, antarkelompok, atau antara yang tahu dengan yang tidak tahu. Ingat! Mengapa dibentuk komite sekolah di setiap sekolah dan dewan pendidikan di setiap daerah?
3.5 Pemodelan (modeling)
            Dalam CTL, sebaiknya guru dapat memberikan model yang bisa ditiru oleh siswa. Model bisa berupa cara mengoprasikan, cara melempar bola dalam olahraga, atau cara melafalkan bunyi dalam bahasa Inggris.

3.6 Refleksi (reflection)
            Refleksi lebih merujuk pada cara berpikir terhadap apa  yang sudah dipelajari. Siswa dilatih mengendapkan apa yang baru dipelajari sebagai setruktur pengetahuan baru. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
3.7 Penilaian Sebenarnya (authentic assessment)
            Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Jika gambaran yang diperoleh guru mengindikasikan bahwa siswa belum dapat menguasai dengan baik materi, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.    

Catatan:
Beberapa kata kunci pembelajaran CTL
1.      Real-world learning
2.      Mengutamakan pengalaman nyata
3.      Berpikir tingkat tinggi
4.      Berpusat  pada siswa
5.      Siswa aktif, kritis, dan kreatif
6.      Pengetahuan bermakna dalam kehidupan
7.      Dekat dengan kehidupan nyata
8.      Perubahan prilaku
9.      Pengetahuan diberi makna.
10.  Learning bukan teaching
11.  Pendidikan (education) bukan pengajaran (instruction)

            Bagaimana aplikasi dari pendekatan CTL? dapat dikaji pada pembelajaran berbasis portofolio seperti pada bagian C berikut ini.
C. Pembelajaran Model Portofolio
1.        Pengantar
Dewasa ini,  istilah portofolio mulai ramai dibicarakan sejak diperkenal­kan­nya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan Pembelajaran Kontekstual (CTL). Meskipun pemahaman tersebut masih sebatas portofolio sebagai suatu cara penilaian (portfolio based assessment).
            Pada dasarnya istilah portofolio sudah dikenal dalam lapangan pemerintahan yang berarti menteri yang tidak memimpin departemen atau menteri negara (minister without portfolio). 
            Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, portofolio dapat diartikan sebagai (1) suatu wujud benda fisik berupa “bundle”, yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan maha (siswa), baik secara individu maupun secara kelompok yang disimpan dalam suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre-test), tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, tugas terstruktur, hasil tes akhir (post-test), dan sebagainya. Karya-karya siswa tersebut haruslah merupakan “karya terpilih” siswa. Karya-karya terpilih siswa tersebut memberikan gambaran dari usaha-usaha terbaik yang dilakukan oleh siswa dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Jadi, portofolio bukan merupakan kumpulan bahan lepas yang tidak valid dan tidak ada relevansinya antara tugas yang satu dengan yang lain. Portofolio bukan keranjang sampah (garbage collector). (2) Sebagai suatu proses pedagogik, portofolio adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran siswa, baik yang berwujud pengetahuan (kognitif), nilai dan sikap (afektif), maupun berwujud keterampilan (skill). (3) sebagai suatu ajektif, portofolio sering disandingkan dengan pembelajaran (portfolio based learning)  dan penilaian  (portfolio based assessment).

                                       Sebagai benda fisik                   bundel  dokumen


Portofolio                       Sebagai suuatu proses sosial pedagogik   

                                                                                    Pembelajaran portofolio                                    
   Sebagai ajektif
                                                Penilaian portopolio

2.   Landasan Pemikiran
Dalam bidang pendidikan, landasan pemikiran portofolio adalah:
2.1  Empat Pilar Pendidikan
Tidak seharusnya guru menempatkan siswa sebagai pendengar pasif  bagai botol kosong yang akan diisi dengan ilmu pengetahuan. Siswa seharusnya diharapkan dapat membangun pengetahuan dan pemahaman terhadap dunia sekitarnya (learning to know), memperkaya pengalaman belajarnnya (learning to do), membangun pengetahuan dan kepercayaan diri (learning to be), dan dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya secara harmonis (learning to live together).
2.2  Pandangan Konstruktivisme
Para ahli pendidik sependapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari apa yang diketahui siswa. Guru tidak dapat memaksakan atau mengindoktrinasi siswa  agar menerima ilmu pengetahuan begitu saja. Yang menjadi arsitek pengubah gagasan adalah siswa sendiri, bukan guru atau orangtua. Guru seharusnya berperan sebagai fasilitator atau penyedia kondisi supaya proses belajar dapat berlangsung dengan baik. Beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai filosofi konstruktivisme antara lain; diskusi yang memberikan kesempatan agar semua siswa tertarik  mengunngkapkan gagasan, pengujian dan hasil penelitian sederhana, demonstrasi, dan kegiatan lain yang memberi peluang kepada siswa untuk mempertajam gagasannya.

2.3  Demokratic Teaching
Adalah suatu bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan demokrasi melalui proses pembelajaran yang demokratis. Dengan landasan  ini, guru seharusnya memposisikan siswa sebagai insane yang harus dihargai kemampuannya dan diberikan kesempatan mengembangkan potensinya. Menjunjung keadilan, menerapkan persamaan  kesempatan, memperhatikan keragaman siswa. Oleh sebab itu, guru perlu menghindari suasana belajar yang kaku, penuh dengan ketegangan, dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif, tidak bergairah, cepat bosan dan mengalami kelelahan.
                                                                        Learning to know
                                    Empat pilar                  learning to do
                                    Pendidikan                  learning to be
                                                                        Learning to live together

Landasan                     Pandangan
Pemikiran                    Konstruktivisme


                                    Democratic teaching

3. Prinsip Dasar
Jika diamati secara mendalam, ada lima prinsip dasar yang tampak dalam  pelaksanaan portofolio, yakni (1) prinsip belajar siswa aktif (student active learning), (2) kelompok belajar kooperatif (cooperative learning), (3) pembelajaran partisipatorik , (4) mengajar yang reaktif (reactive learning), dan (5) belajar yang menyenangkan (joyfull learning).
3.1 Prinsip belajar Siswa Aktif
Prinsip belajar siswa aktif seharusnya tampak pada hampir semua proses pembelajaran, mulai pada tahap perencanaan, kegiatan lapangan, dan pelaporan aktivitas. Pada tahap perencanaan, aktivitas siswa mulai tampak pada saat mengidentifikasi masalah dengan menggunakan teknik brain strorming. Setiap siswa diperkenankan menyampaikan masalah yang dianggap menarik, selanjutnya melakukan voting memilih satu masalah untuk kajian kelas. Pada tahap pelaksanaan, aktivitas siswa semakin meningkat. Dengan wawancara, observasi, atau kuesioner mereka mengumpulkan data dan informasi (dari berbagai sumber) yang diperlukan untuk menjawab permasalahan di dalam kelas. Untuk mendukung data, mereka dapat saja melakukan pengambilan foto, membuat sketsa, atau klipping. Sedangkan pada tahap pelaporan, segala bentuk data dan informasi yang telah dikumpulkan disusun secara sistematis dan disimpan di dalam bundle. Adapun data dan informasi yang dianggap paling penting dan menarik (eyes catching) ditempelkan pada portofolio untuk selanjutnya dilakukan public hearing dalam kegiatan show-case di hadapan dewan yuri.
3.2 Kelompok Belajar Kooperatif
            Penerapan portofolio juga menuntut prinsip belajar kerjasama antarsiswa dan antara komponen-komponen lain di dalam dan di luar sekolah. Kerjasama antarsiswa tampak pada saat mereka melakukan diskusi tentang masalah yang telah dipilih bersama. Sedangkan kerjasama antara komponen lain di sekolah, misalnya pada saat siswa ditugaskan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia mengumpulkan data tentang sastrawan-sastrawan local dan nasional di Pusat Kesenian Makassar bertepatan waktunya dengan jadwal latihan olahraga, maka dibutuhkan kerjasama antara guru mata pelajaran bahasa Indonesia dengan olahraga.Adapun kerjasama dengan komponen di luar sekolah, misalnya dengan pada saat siswa merencanakan mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau suatu kawasan/taman rekreasi, maka diperlukan kerjasama antara  antara sekolah dengan instansi penanggung jawab. 
3.3 Pembelajaran Partisipatorik
            Pembelajaran partisipatorik menganut prinsip belajar sambil melakukan (learning by doing). Salah satu manafaat dari prinsip dasar ini, agar siswa belajar hidup berdemokrasi. Misalnya pada saat proses penentuan pemilihan masalah di dalam kelas, siswa dituntut untuk dapat menghargai dan menerima pendapat temannya yang telah didukung suara terbanyak. Pada saat berlangsung diskusi, para siswa belajar mendengar, mengemukakan, dan mempertahankan pendapatnya, di samping belajar menyampaikan dan  menerima kritik/masukan.
3.4 Reactive Teaching
            Untuk dapat menerapkan pembelajaran berbasis portofolio, guru perlu menciptakan strategi yang tepat agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Oleh karena itu, guru dituntut untuk dapat meyakinkan siswa akan kegunaan materi pelajaran dalam kehidupan nyata siswa di masa yang akan datang. Demikian juga, guru harus dapat menciptakan situasi sehingga materi pelajaran selalu menarik. Memiliki tingkat sensibilitas yang tinggi untuk dapat melihat tingkat kebosanan siswa dalam PBM (lakukan ice break).
3.5 Joyfull learning
            Salah satu teori belajar menegaskan bahwa sesulit apapun materi pelajaran, jika dipelajari dalam suasana yang menyenangkan akan mudah dipahami. Aatas dasar itulah, maka agar siswa mudah memahami materi pelajaran, mereka harus belajar dalam suasana yang menyenangkan, penuh daya tarik dan motivasi. Oleh karena itu, siswa seharusnya diberi keleluasaan untuk memilih tema belajar yang menarik baginya.



4. Implementasi Model Portofolio
            langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam mengimplementasikan model portofolio adalah sebagai berikut.
1.        Mengindetifikasi masalah
2.        Memilih masalah untuk  kajian di kelas
3.        Mengumpulkan data dan informasi terhadap masalah yang dikaji
4.        Mengembangkan portofolio di dalam kelas
5.        Penyajian portofolio
Berikut ini disajikan contoh implementasi model portofolio dalam beberapa pertemuan.

Pertemuan
Skenario Pembelajaran
Keterangan
Minggu ke-1
·      Anak-anak selamat pagi! Saat ini kita akan mempelajari sastra angkatan 45 (paparkan sesuai silabus yang disusun)
·      Cobalah kalian identifikasi sejumlah masalah kesastraan dalam angk’ 45, lalu diskusikan dengan temanmu.
·      Bentuk kelompok kecil (3-4 orang).
·      Mari kita mulai mempelajari materi pelajaran sesuai silabus.
Proses membuka pelajaran hingga menjelaskan bahwa masing-masing kelompok minggu depan harus memilih satu masalah dengan alokasi waktu sekitar 20 menit.
Minggu ke-2
·      Anak-anak, mari kita mengidetifikasi masalah yang suudah kalian tentukan minggu lalu. Wakil setiap kelompok dipersilakan menuliskan di atas papan.
·      Nah, kita telah memiliki daftar masalah yang berhasil kalian dapatkan.
·      Juru bicara  setiap kelompok dipersilakan untuk mengemukakan alasan mengaspa memilih masalah itu (waktu 5 menit).
·      Karena semua masalah dapat dikemukakan alasannya dengan baik oleh setiap kelompok, maka kita akan tetapkan salah satu di antaranya sebagai materi kajian kelas.
·      Anak-anak diberi waktu beberapa menit untuk  memikirkan masalah mana yang paling tepat untuk dijadikan bahan kajian kelas.
·      Sekarang mari kita lanjutkan materi minggu lalu yang belum selesai.
Proses memulai pelajaran hingga penetapan daftar masalah  yang akan dipilih sebaagai bahan diskusi kelas.
Lakukan analisis materi pelajaran semacam itu sesuai silabus yang telah disusun berdasarkan jumlah pertemuan persemester.
5. Kriteria Portofolio
            Portofolio yang dibuat oleh kelas hendaknya memenuhi seejumlah criteria tertentu, baik untuk kelompok maupun untuk keseluruhan kelompok (kelas). Secara umum kriteria penilaian portofolio addalah sebagaiberikut. 
1.      Kelengkapan
2.      Kejelasan
3.      Informasi
4.      Dukungan
5.      Data grafis
6.      Dokumentasi
7.      Argumen kekonstitusionalan
Daftar Bacaan
A. Forum Brief, 1999. Contextually Based  Learning: Fad or Proven Practicehttp:/www.aypf.org/forumbriefs/1999/fbo70999.htm
Depdiknas. 2002. Kurikulum Berbasis  Kompetensi. Jakarta. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknnas.
Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi.  Bandung PT. Remaja Rosdakarya.
Zahorik, John A. 1995. Constructivist Teaching (Fastback 390). Bloomington, Indiana: Phi-Delta Kappa Educational Foundation.
Bobbi DePorter & MikeHernacki. 2002. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan (terjemahan). Bandung. Penerbit Kaifa.
Budimansyah, Dasim. 2003. Model Pembelajaran Portofolio: Sosiologi. Bandung. Penerbit Ganesindo.
Mc Laughlin, Maureen & Vogt, Mary Ellen. Portfolios in Teacher Eduation. California State Unversity.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan nasional.
Longstreet ad Shane. 1993. Curriculum for a New Millenium. Boston, London: Allyn and Bacon.
Kratf, N. 2000.  Criteria for Authentic  Project-Based Learning. Denver: RMC Rresearch Corporation.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar